Lantunan suara gamelan merdu menyapa saat kita memasuki kawasan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau yang biasa disebut Keraon Jogja. Di kompleks yang dinamakan kompleks Sri Manganti ini berdiri sebuah gerbang yang dinamakan Regol Sri Manganti. Dua patung raksasa yang identikit pun diletakkan di kanan-kiri gerbang tersebut. Patung raksasa itu tentunya sangat familiar bagi kita dan nampaknya ada di hampir semua bangunan bersejarah dan bangunan penting di Jawa.

Dwarapala namanya

(sumber world-heritage-site.com)

Sejatinya patung tersebut bernama Dwarapala. Dalam bahasa sansekerta sendiri “dwara” berarti pintu/gerbang sedang “gopala” berarti penjaga sehingga Dwarapala bisa diartikan sebagai patung penjaga pintu/gerbang.

(sumber ennysrentcar.com)

Pada umumnya dwarapala terbuat dari batu andesit berbentuk raksasa dengan perawakan tambun dengan wajah yang menyeramkan dan diukir dengan posisi setengah berjongkok dengan kaki kiri menekuk ke depan dan kaki kanan dilipat kebelakang serta memegang memegang gada (senjata pentungan besar) di tangan kanannya. Walau diletakan di sisi yang berbeda (kanan dan kiri pintu masuk) bentuk kedua dwarapala akan selalu sama dan tak ada perbedaan antara dwarapala yang kiri dan yang kanan.

Asal-usul

(sumber hipwee.com)

Banyak versi yang mencertikan asal-usul munculnya kebiasaan meletakan dwarapala di depan pintu masuk pada bangunan-bangunan penting di Jawa.

Salah satu versi menyatakan bahwa Raksasa dalam dwarapala tersebut adalah penggambaran sesosok makhluk penjaga hutan Jawa. Wajahnya begitu mengerikan dan tubuhnya sangat besar dengan perut yang buncit, mata yang melotot dan taring yang menyeringai keluar. Namun makhluk tersebut tidak memiliki aura negativ dan selalu menjaga hutan tempat dia tinggal. Oleh karena itu orang jaman dahulu membuat perwujudan dari makhluk tersebut agar bangunan yang dibangunnya selalu di jaga.

(sumber borobudurpark.com)

Versi yang lainnya mengatakan bahwa dwarapala adalah penggambaran sosok dari seorang patih di kerajaan Ratu Boko yang menurut cerita sangat setia dengan tuannya dan siap mengorbankan apa saja untuk menjaga keraton tuannya (Keraton Ratu Boko)