Jogja kian cepat bergerak. Mungkin dalam hitungan satu dekade ke depan wajah otentiknya sudah sulit dikenali. Hotel-hotel dan apartemen tumbuh seperti jamur di musim hujan. Begitu pula populasi kendaraan bermotor yang terus bertambah.

Namun, ada satu kawasan yang masih bisa diharapkan untuk tak terlalu banyak mengalami perubahan. Lokasinya hanya sekitar 2 km dari Stasiun Tugu. Kawasan itu dikenal sebagai Jeron Beteng.  Di situlah jantung kebudayaan Jawa berada. Kamu bisa menjelajahinya dengan berjalan kaki atau bersepeda. Di antara dua opsi itu, saya lebih memilih bersepeda untuk memangkas waktu dan mendapatkan semilir angin.

Berikut tempat-tempat menarik yang saya lintasi dan kunjungi:

Alun-alun Utara [Sumber: Kristanti Wardani]

  1. Alun-alun Utara

Tempat bersejarah ini dahulu berfungsi sebagai tempat untuk “pepe” atau berjemur di bawah terik matahari. Rakyat akan datang kemari dan melakukan “pepe” untuk menyampaikan uneg-uneg mereka. Semacam tempat untuk berdemonstrasi. Selain itu, setiap Maulud Nabi akan dilangsungkan upacara grebeg di sini. Kamu akan melihat semua prajurit keraton keluar dan gunungan berisi hasil bumi diarak lewat sini.

  1. Bangsal Pagelaran Keraton

Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta [Sumber: Kristanti Wardani]

Bangsal ini dipugar pada masa Sri Sultan HB VIII. Lihatlah ukiran yang dipahatkan pada bagian atas gerbangnya. Itu adalah “sengkalan” atau sistem perlambangan titimangsa dengan kata-kata atau gambar. Jika dibaca, “sengkalan” itu berbunyi “panca gana salira tunggal” yang menandakan tahun 1865 Jawa. Bangsal ini jadi spot foto turis sejak 1900-an lho.

  1. Museum Kereta Keraton Yogyakarta

Saya sarankan mampir sebentar di sini untuk melihat beragam kereta Keraton Yogyakarta. Di sini tersimpan kereta paling tua sejak masa Sri Sultan HB I. Kamu bisa meminta pemandu untuk menemani berkeliling museum yang terbilang kecil ini.

Di dalam tempat ini tersimpan harta karun luar biasa Keraton Yogyakarta [Sumber: Kristanti Wardani]

  1. Alun-alun Selatan

Berani coba “masangin”? [Sumber: Kristanti Wardani]

Dahulu tempat ini menjadi tempat untuk latihan para prajurit keraton. Dalam kunjungannya pada 1809, Gubernur Jenderal Daendels terkagum-kagum melihat pertunjukan perang-perangan empat puluh anggota pasukan Srikandi kesayangan Sultan. Di masa kini, Alun-alun Selatan jadi salah satu ruang publik di Jogja. Biasanya turis ke sini untuk mencoba tantangan “masangin”, melintas di antara dua beringin.

  1. Jokteng Wetan

Jokteng Wetan dilihat dari sisi luar [Sumber: Kristanti Wardani]

Pojok Beteng Wetan atau lebih populer dengan sebutan jokteng wetan ini merupakan salah satu dari tiga bastion benteng luar (baluwarti) Keraton Jogja yang tersisa. Kamu dapat masuk untuk melihat jejak sejarah pembangunannya. Benteng ini diperkuat oleh putra mahkota (kemudian menjadi Sri Sultan HB II) pada 1809.

  1. Plengkung Gading

Plengkung ini termasuk plengkung yang sakral. Sultan yang masih hidup atau berkuasa dilarang keras melewatinya. Plengkung ini ditujukan hanya untuk jenazah raja. Cobalah naik ke atas. Kamu bisa melihat Alun-alun Selatan. Jika beruntung Gunung Merapi akan jadi latar belakang yang memesona.

Plengkung Gading nan Sakral [Sumber: Kristanti Wardani]


Tempat-tempat di atas dapat kamu singgahi dalam kurun waktu sekitar 2 jam dengan sepeda. Jadi, jika hanya punya waktu sebentar di Jogja trip ini dapat menjadi alternatif kunjunganmu. Trip lengkap tersedia di aplikasi PLUNQ.