Dikelilingi pekarangan sawah serta alam yang asri, berdiri sebuah desa wisata bernama Kebonagung. Terletak tidak jauh dari jalan raya, desa wisata ini menawarkan pengalaman untuk merasakan hidup sebagai penduduk desa dengan segala kearifan lokal dan kesenian serta cara hidup yang masih sangat tradisional.

Kebonagung sendiri sebetulnya tidak jauh berbeda dengan desa-desa lain yang ada di Yogyakarta. Hanya saja,penduduk desa yang sudah dipatenkan menjadi desa wisata sejak tahun 1998 ini lebih peka terhadap kehadiran wisatawan dan siap memberikan keramahan yang khas.

(sumber koleksi pribadi)

Kita bisa menikmati semua keindahan alam serta interaksi penduduknya dengan bersepeda mengelilingi desa. pengurus desa wisata sendiri sudah menyiapkan sepeda jengki kuno yang siap kita pakai untuk berkeliling desa ini.

(pendopo berbentuk joglo ; sumber koleksi pribadi)

Saat pertama tiba, kita akan disambut di sebuah pendopo yang berbentuk joglo. Disini para pengelola akan menjelaskan apa yang akan kita lakukan di desa ini serta akan memberikan pengenalan tentang seperti apa sebenarnya desa Kebonagung itu sendiri.

(salah satu homestay ; sumber koleksi pribadi)

Jika kita memutuskan untuk menginap. Kita bisa merasakan menginap di rumah penduduk yang tentunya sangat mengedepankan gaya hidup masyrakat desa.

Gejog lesung

(sumber koleksi pribadi)

Ketika berkunjung ke Desa Wisata Kebonagung ini, pertama-tama kita akan disambu oleh lantunan lesung dan alu yang dipukulkan dengan irama yang menghentak oleh ibu-ibu warga Kebunagung. Alunan pukulan lesung dan alu yang biasa disebut gejog lesung ini tentunya akan menjadi sambutan selamat datang yang hangat dan menarik.

(sumber koleksi pribadi)

Lesung dan alu sendiri sebenarnya adalah alat yang dipergunakan para wanita jaman dahulu untuk menumbuk padi. Kegiatan menumbuk padi sendiri biasanya dilakukan pada pagi hari untuk mengawali hari. Selain itu memukulkan alu pada lesung biasanya dilakukan saat terjadi gerhana matahari. Namun dengan perkembangan zaman, kegiatan menumbuk padi dengan lesung dan alu mulai ditinggalkan. Karena hal itu lah, pengelola desa wisata Kebonagung mencoba untuk membangkitkan kesenian ini walau hanya berupa sambutan selamat datang.

Membajak sawah dan menanam padi

(sumber koleksi pribadi)

Desa ini dikekelilingi oleh pekarangan sawah yang sangat luas jadi tidak heran kalau mata pencaharian sebagian penduduknya adalah bertani atau bercocok-tanam. Ketika mengunjungi desa ini kita bisa mendapatkan pengalaman menjadi seorang petani, mulai dari membajak sawah yang nantinya akan ditanami padi sampai dengan cara menanam padi.

(sumber koleksi pribadi)

Makan besar kendurenan

(sumber koleksi pribadi)

Setelah melakukan semua kegiatan baru yang menyenangkan tentunya kita akan merasa lapar dan saatnya mencari sesuatu yang mengenyangkan. Desa ini menawarkan acara makan malam dengan cara yang sangat tradisional yaitu Kendurenan.

(sumber koleksi pribadi)

Kendurenan adalah adat orang jawa untuk makan besar bersama yang biasanya dilakukan untuk memperingati suatu acara yang sakral. Di Kebonagung kita bisa merasakan tradisi yang masih tradisional ini yang dikemas dengan sangat menarik dan makanan yang tentunya sangat lezat.

Batik sebagai produk lokal

(sumber koleksi pribadi)

Selain kearifan lokal dengan segala bentuk interaksi sosial masyarakat pedesaannya. Kebonagung mempunyai produk lokal berupa batik yang dibuat dan merupakan hasil karya salah seorang penduduk setempat. Kita juga bisa mencoba sendiri membuat batik gaya kita.

(sumber koleksi pribadi)

(sumber koleksi pribadi)


Sebagai sebuah desa wosata, Kebonagung benar-benar menawarkan paket wisata yang sangat lengkap. Dengan pemandangan alam yang indah dan masih asri, keramahan penduduk serta tradisi yang masih terjaga, kita bisa mendapatkan banyak hal di sini. Selain itu desa yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 93 ini sangat peduli dengan kehidupan warganya dan terus berkembang mengikuti perkembagan jaman tanpa meninggalkan adat dan budaya leluhurnya.